Jangan jadikan hatimu sekecil gelas




Seorang pemuda yang sedang dirundung masalah, langkahnya gontai, mukanya ruwet, kusut tampak sekali bahwa dia sedang sedih. Dia mendatangi orang tua yang dikenal bijak didaerah itu dengan menceritakan apa yang sedang dialaminya. Setelah selesai bercerita pak tua mengambil segenggam garam dan memasukkannya kedalam segelas air putih, kemudian di aduk dan pemuda tersebut diminta meminumnya. "Bagaimana rasanya?" tanya pak tua. Pemuda menjawab, "Wah asin sekali", sambil meludah. Kemudian pak tua mengajak pemuda itu berjalan-jalan disebuah danau yang sangat jernih airnya, rimbun dan sejuk. Kemudian pak tua menaburkan segenggam garam ke telaga tersebut, lantas pemuda tadi disuruh meminum segelas air telaga tersebut dan mengatakan bahwa rasanya sangat segar. 

Kemudian pak tua menepuk pundak pemuda itu dan berkata, "begini anak muda, kehidupan akan silih berganti mirip segenggam garam. Jumlah rasa asin dan pahitnya sama, tapi yang kita rasakan akan sangat bergantung dari wadah yang kita miliki. Hatimu, perasaanmu dan kalbumu adalah wadah tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu sekecil gelas, tapi jadikanlah seluas telaga yang mirip dengan luasnya hati seorang ibu, hati yang mampu meredam setiap tangisan, rengekan dan kenakalan anak-anaknya dan merubahnya menjadi keceriaan dan kebahagiaan."


Kemudian orang tua tersebut memberi secarik kertas berisi pesan kepada pemuda tersebut, yaitu:

  • Abaikan saja orang-orang yang membencimu, karena waktumu dinanti oleh mereka yang mencintaimu.
  • Jangan sampai ruang hatimu dipenuhi rasa iri dan benci hingga hampir-hampir tidak menyisakan ruang untuk dicintai.
  • Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Karena banyak orang yang mengiginkan surga tapi masih nyaman berbuat dosa.
SUMBER: Notula (April 2014)

Post a Comment

0 Comments